PROSPEK KEANEKARAGAMAN HAYATI MIKROBA (MICROBIAL BIOPROSPECTING) SUMATERA UTARA

Berikut pidato pengukuhan bpk DWI SURYANTO (mantan dosen favoritku dulu, semoga bapak dan keluarga sehat2 selalu..., permisi ya pak izin copas isi pidato bpk)

PROSPEK KEANEKARAGAMAN HAYATI MIKROBA
(MICROBIAL BIOPROSPECTING) SUMATERA UTARA


Pidato Pengukuhan 
Jabatan Guru Besar Tetap
dalam Bidang Mikrobiologi pada
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
diucapkan di hadapan Rapat Terbuka Universitas Sumatera Utara

Gelanggang Mahasiswa, Kampus USU, 10 Oktober 2009

Oleh:
DWI SURYANTO



UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

Yang terhormat,

•  Bapak Ketua dan Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Sumatera
Utara
•  Bapak Rektor Universitas Sumatera Utara
•  Para Pembantu Rektor Universitas Sumatera Utara
•  Ketua dan Anggota Senat Akademik Universitas Sumatera Utara
•  Ketua dan Anggota Dewan Guru Besar Universitas Sumatera Utara
•  Para Dekan Fakultas/Pembantu Dekan, Direktur Sekolah Pascasarjana,
Direktur dan Ketua Lembaga di Lingkungan Universitas Sumatera Utara
•  Para Dosen, Mahasiswa, dan Seluruh Keluarga Besar Universitas
Sumatera Utara
•  Seluruh Teman Sejawat serta para undangan dan hadirin yang saya
muliakan


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Segala puja dan puji atas kebesaran-Mu ya Allah, segala sembah dan doa
hanya ditujukan kepada-Mu ya Allah. Salawat dan salam kepada nabi
seluruh umat, Muhammad SAW.

Allah izinkanlah saya atas ridha-Mu dengan segala kerendahan hati
menyampaikan pidato ilmiah pengukuhan Guru Besar pada sidang terbuka
ini. 


PENDAHULUAN

Hadirin yang saya muliakan, 

Pidato ilmiah ini saya mulai dengan sebuah kutipan:

Microbes can and will do anything: microbes are smarter, wiser and more
energetic than microbiologists, chemists, engineers and others 
(Perlmon D. 1980: Developments in Industrial Microbiology)

Sebagai salah satu negara yang memiliki biodiversitas sangat besar,
Indonesia menyediakan banyak sumberdaya alam hayati yang tak ternilai
harganya, dari bakteri hingga jamur, tumbuhan, dan hewan. Pencarian
isolat dan jenis organisme yang potensial untuk digunakan dalam bidang
industri, pertanian, dan kesehatan merupakan pekerjaan yang harus terus
dilakukan. Potensi yang tersimpan  ini dapat diangkat untuk tujuan
pengembangan industri dalam negeri. Sesuai dengan bidang yang saya
tekuni, saya memilih bekerja dengan strain-strain bakteri yang diisolasi
terutama dari daerah Sumatera Utara untuk melihat pemanfaatannya
sebagai sel atau produk sel seperti protein dan enzim. Telaah-telaah yang
dilakukan pada gilirannya diharapkan memberikan informasi tentang
potensi (bioprospecting) sumberdaya hayati yang ada di Indonesia,
khususnya Sumatera sebagai model bagi upaya pengelolaan dan pelestarian
sumberdaya hayati.


Hadirin yang saya hormati,

Disebabkan oleh karena tidak  glamour dan kesulitan mengakses, orang
awam tidak mengetahui nilai penting keanekaragaman mikroba. Banyak
dari kita menyangka bahwa semua bakteri menyebabkan penyakit.
Sesungguhnya hanya sebagian kecil saja yang memiliki  potensi patogen,
selebihnya dapat dimanfaatkan untuk tujuan kesejahteraan manusia.
Pengetahuan tentang keanekaragaman biologi mikroba berhubungan
dengan kekayaan jenis, distribusi lokal dan global, dan fungsi dalam
ekosistem terlihat belum lengkap (Bull  et al 2000). Berapa sesungguhnya
jumlah jenis mikroba sampai saat ini belum diketahui. Dalam forum-forum
resmi keanekaragaman mikroba sering  terabaikan (Bull & Hardman 1991),
padahal mikroba mengkatalisis transformasi unik dan murah dalam siklus
biogeokimia dalam biosfer, memproduksi komponen-komponen penting
dalam atmosfer bumi, dan mewakili bagian yang besar dari
keanekaragaman genetik organisme (Whitman  et al 1998). Disamping itu
secara khusus mikroba telah digunakan untuk tujuan lain misalnya sebagai
agen pengendali hama dan penyakit, agen bioremediasi dan biodegaradasi
bahan pencemar, agen penghasil protein dan enzim-enzim penting yang
telah dimanfaatkan dunia, agen-agen dalam bioteknologi modern, dan
digunakan untuk menguak rahasia kehidupan bumi dan jagad raya. Karena
nilai penting yang berhubungan langsung sebagai sumber utama dalam
pengembangan bioteknologi, pelestarian microbial gene pools merupakan
hal yang sangat mendesak untuk dikerjakan (Bull & Hardman 1991). 


Hadirin yang saya hormati,

Pemanfaatan mikroba untuk mengendalikan penyakit tanaman merupakan
bidang yang relatif belum lama berkembang. Pengendalian hayati jamur
penyakit tanaman acap dilakukan dengan menggunakan mikroba seperti
jamur dan bakteri. Sekitar 40 produk pengendalian hayati penyakit
tanaman kini beredar di dunia (Fravel  et al 1998), tidak dikenal merek
komersial sejenis yang asli dari Indonesia. Sumber biologi untuk
pengendalian hama dan penyakit tanaman tetap merupakan alternatif
potensial yang penting sebagai pengganti pestisida, dan sering dianjurkan
untuk mengganti pengendalian berbasis kimia terhadap penyakit atau untuk
mengendalikan penyakit yang jika dikendalikan dengan bahan kimia tidak
ekonomis. Salah satu pertimbangan dalam memilih agen pengendali hayati
berupa kemampuan biopestisida bertahan dalam waktu lama dan tidak
memerlukan tempat penyimpanan khusus (Powell & Faull 1989). Strategi
untuk seleksi strain mikroba berdasarkan kepada kriteria kemampuan
kolonisasi, kemampuan kompetisi, dan kemampuan menyesuaikan diri di
lingkungan (McQuilken et al 1998).

Kepentingan lain dari mikroba misalnya dalam bioremediasi senyawa toksik.
Secara umum, proses biodegradasi dan bioremediasi bahan pencemar di
alam dilakukan oleh mikroba seperti bakteri, jamur dan ganggang
(Suryanto & Suwanto 2000; Semple & Cain 1996; Spadaro  et al 1992)
meski beberapa proses juga dilakukan oleh tumbuhan. Penelitian yang telah
dilakukan yang berhubungan dengan biodegradasi dan bioremediasi telah
membuktikan bahwa isolat bakteri dan jamur  indigenous mampu
mendegradasi senyawa hidrokarbon aromatik monosiklik (Suryanto &
Suwanto 2000) dan senyawa campuran yang terdapat dalam minyak solar
(Fachrian 2006).


Hadirin yang saya muliakan,

Kebanyakan negara berkembang saat ini sedang menghadapi masalah
malnutrisi. Kekurangan protein dalam makanan dan pakan terlihat jelas
sebagai akibat tingginya pertumbuhan populasi. Keadaan ini secara umum
meningkatkan kebutuhan protein dan makanan dengan mutu yang lebih
baik. Sebagai konsekuensi dari kebutuhan makanan dengan mutu yang
baik, kita tidak bisa lagi menggantungkan diri pada makanan dari hasil
pertanian, peternakan, dan perikanan, perlu meningkatkan pasokan protein
melalui sumber-sumber baru. Peningkatan kebutuhan terhadap protein
pangan dan pakan ini mempercepat pencarian alternatif berupa protein
non-konvensional untuk menambah sumber protein yang sudah ada. Oleh
sebab itu menjadi sangat penting untuk meningkatkan produksi protein
dengan memanfaatkan cara-cara yang mungkin dilakukan. Sumber-sumber
makanan baru harus memiliki nilai nutrisi tinggi, secara ekonomi  feasible,
dan dapat disediakan secara lokal.
Salah satu usaha yang dilakukan terfokus pada pemanfaatan limbah
pertanian seperti limbah pengolahan tepung untuk dikonversi menjadi
protein mikroba atau protein sel tunggal (PST). Beberapa penelitian dalam
pengolahan limbah ditujukan kepada perancangan bangunan, sebagian
perhatian diberikan kepada aspek mikrobiologis dari pengolahan limbah
yang sebetulnya merupakan fenomena purifikasi limbah. Dari sisi
pengolahan limbah, terutama limbah organik oleh mikroba, proses ini lebih
sering ditujukan kepada penguraian atau mineralisasi bahan organik
menjadi CO2 dan air melalui proses aerobik. Konversi bahan organik ini ke
dalam sel organisme pengurai sering diabaikan, boleh jadi karena
organisme pengkonversi tidak dapat dipergunakan untuk keperluan tertentu
seperti untuk pakan atau makanan sebagai PST.

Pekerjaan lain yang mulai banyak dikerjakan di Indonesia berupa eksplorasi
termofil. Bakteri termofil asal sumber air panas Sumatera Utara
diperkirakan memiliki potensi dalam bidang industri. Kepentingan komersial
saat ini terutama terfokus pada enzim bakteri dan metabolit sekunder
lainnya. Biokatalis industri ini secara khusus telah dikembangkan sebagai
sektor utama dengan kisaran penggunaannya mulai dari perlakuan biologis
(biotreatment) limbah dan bahan kimia beracun, bahan tambahan dalam
deterjen, pemroses bahan dalam industri pulp, kertas dan kulit, serta
transformasi bahan (the provision of a plethora of stereo- and regioselective
transformation) (Bull et al 2000).


Hadirin yang saya muliakan,

Disamping melakukan penelitian terhadap potensi bakteri, penelitian lain
yang masih berhubungan dengan potensi keanekaragaman hayati Sumatera
Utara juga telah dikerjakan, seperti penelitian melihat potensi obat dari
cendawan Ganoderma Sumatera Utara melalui uji keanekaragaman genetik
telah dilakukan. Ganoderma, dikenal sebagai Ling Zhi di Cina dan Reishi di
Jepang, telah digunakan sejak abad  keempat masehi sebagai salah satu
komponen obat dalam obat-obatan tradisional Cina. Pemanfaatannya
sebagai obat alternatif berbagai penyakit terus dikembangkan (Dunham
2000). Meskipun  Ganoderma  spp. telah digunakan ratusan tahun di Cina
dan Jepang sebagai obat tradisional untuk penyembuhan berbagai penyakit,
penelitian secara sistematik baru berlangsung sekitar 25 tahun (Boh  et al
2000). Pada tahun 1997 produksi Ganoderma dunia mencapai 4.500 ton,
3.000 ton di antaranya dihasilkan oleh Cina. Total perdagangan Ganoderma
dunia mencapai US$1,2 juta (Dunham 2000). 
Dalam penelitian lain telah dicoba menguji beberapa tumbuhan yang
memiliki nilai etnobotani dari hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL)
sebagai obat antimikroba. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan
Hutan Tangkahan TNGL Kabupaten Langkat, Sumatera Utara telah
mengenal dan sekaligus memanfaatkan beberapa jenis tumbuhan yang
berpotensi sebagai obat. Penggunaan tumbuhan obat di Indonesia masih
berdasarkan kebiasaan yang turun temurun, belum didasari penelitian
farmakologi dan percobaan klinik (Sardjono 1989). Beberapa tumbuhan
yang diuji memiliki potensi yang  dapat dikembangkan sebagai bahan
antibakteri dan antijamur. Pengujian potensi obat untuk penyakit lain
mestinya juga harus dilakukan. 


BEBERAPA POTENSI MIKROBA INDIGENOUS

Biopestisida Berbasis Bacillus thuringiensis

Hadirin yang saya hormati,

Bacillus  thuringiensis, satu bakteri aerob, pembentuk spora, gram positif,
merupakan bakteri di tanah, air, permukaan tumbuhan, serangga mati, dan
biji-bijian (Kawalek et al 1995; Bravo et al 1998). Beragam isolat dan sub-
jenis  B. thuringiensis diketahui sebagai sumber penting biopestisida
komersial (Lopez-Meza & Ibarra 1996). Bakteri ini memenuhi syarat sebagai
agen pengendali mikrobiologi terhadap hama dan vektor penyakit pertanian
(Ben-Dov  et al 1999). Untuk mengendalikan serangga hama, isolat-isolat
dari  Bacillus  thuringiensis atau bakteri lain telah pula digunakan orang
sebagai agen pengendalian.  B. thuringiensis dikenal dapat memproduksi
senyawa toksik terhadap berbagai organisme hama target, artropoda dan
nematoda. Strain-strain bakteri ini menunjukkan kisaran spesifisitas yang
luas pada berbagai ordo serangga (Lepidoptera, Diptera, Coleoptera,
Hymenoptera, Homoptera, dan Mallophaga) dan Acari (Bravo  et al 1998).
Protein kristal toksin (Cry) yang diproduksi oleh bakteri ini sangat spesifik
dan sangat berguna dalam mengendalikan organisme hama target (Baum
et al 1996). Sejauh ini protein Cry tidak memperlihatkan toksisitas terhadap
mammalia, burung, amfibia, atau reptilia. Kebanyakan gen toksin bakteri ini
berada di dalam plasmid (Itoua-Apoyolo et al 1995).

Beberapa pertimbangan lingkungan dan keselamatan telah menguntungkan
pengembangan biopestisida seperti  B. thuringiensis (Baum  et  al 1996).
Menurut Agaisse & Lereclus (1995), semua sub-jenis  B. thuringiensis
dikenal dapat memproduksi sejumlah besar protein kristal insektisida yang
bersegregasi dalam tubuh paraspora (δ-endotoksin) selama masa sporulasi.
B. thuringiensis saat ini merupakan agen pengendali yang diproduksi secara
biologi yang paling luas digunakan (Schnepf et al 1998). Tahun 1995 saja,
penjualan biopestisida ini merupakan sekitar 2% total penjualan insektisida
dunia (Lambert & Peferoen 1992).

Secara umum pestisida Cry-based membutuhkan biaya yang rendah dalam
pengembangan dan registrasinya, sebagai contoh  B. thuringiensis subsp.
israelensis membutuhkan biaya 1/40 dibandingkan dengan pestisida kimia
sintetik (Becker & Margalit 199).  Karena tingginya keanekaragaman dan
adanya potensi pematahan resistensi menggunakan isolat baru dan
manipulasi genetika menyebabkan penelitian tentang bioinsektida seperti
kristal protein  B. thuringensis harus tetap dilakukan. Penyediaan isolat-
isolat baru yang mampu menghasilkan beragam kristal toksin merupakan
salah satu alternatif mengurangi kemungkinan resistensi organisme target
terhadap toksin B. thuringiensis (Masson  et  al 1998; Schnepf  et  al 1998;
Thomas et al 2000). Untuk mendapatkan strain B. thuringiensis baru yang
menghasilkan protein Cry, isolasi sejumlah besar strain  B. thuringiensis
baru saat ini menjadi aktivitas rutin pada banyak industri (Kuo & Chak
1996).

Isolasi  B. thuringiensis asal Sumatera Utara yang telah dilakukan
menemukan 9 isolat yang relatif mirip secara morfologi dan biokimia.
Pengamatan morfologi dan hasil uji biokimia menunjukkan bahwa isolat TU1
dan isolat bioinsektisida komersial,  memiliki sifat morfologi dan biokimia
relatif sama. Kemungkinan kedua isolat ini secara genetik mirip. Variasi
yang tidak terlalu besar dari sifat morfologi dan biokimia antar isolat bakteri
ini menunjukkan keanekaragaman morfologi dan biokimia yang relatif tidak
besar dari isolat B. thruringiensis asal daerah Sumatera Utara (Suryanto et
al 2007a).

Bioasai spektrum isolat terhadap larva beberapa jenis serangga
menunjukkan adanya spektrum yang berbeda. Hasil pengamatan
menunjukkan bahwa isolat TU1 dapat membunuh larva, dengan variasi
kemampuan dalam mematikan. Meski  secara umum harus diakui bahwa
bioinsektisida komersial yang diuji menunjukkan performa yang lebih baik
dalam mengendalikan larva serangga, namun kelihatannya kemampuan
isolat TU1 memiliki kecenderungan  yang mirip dengan bioinsektisida
komersial tersebut (Suryanto  et al 2007b). Kemiripan ini boleh jadi
disebabkan oleh adanya gen penyandi kristal protein yang sejenis pada
kedua isolat. Kemiripan ini dapat diketahui jika kedua isolat dianalisis
genomnya. Ben-Dov  et al (1997) melihat bahwa strain  B. thuringiensis
subsp. thuringiensis HD-2 setidak-tidaknya memiliki satu gen cry1 dan juga
gen cry2Ab, yang masing-masing toksik terhadap Lepidoptera dan Diptera.
Kemampuan spesifik strain  B. thuringiensis semacam ini juga dilaporkan
oleh Lambert et al (1996). 

Amplifikasi dengan menggunakan primer yang digunakan Bravo  et al
(1998) berhasil mengamplifikasi gen  cry1 isolat TU1 dan isolat
bioinsektisida komersial dengan pita yang dihasilkan sekitar 550 pb
(Suryanto 2009). Primer ini dirancang khusus untuk mengamplifikasi gen
cry1. Menurut Bravo et al (1998) primer ini berhasil mengamplifikasi hampir
semua jenis gen  cry1 dengan ukuran pita yang dihasilkan antara 543-594
pb. Teramplifikasinya gen cry dengan besar pita yang sama di kedua isolat
dan kenyataan bahwa kedua isolat memiliki spesifisitas insektisida yang
mirip terhadap larva mengindikasikan bahwa kedua isolat memiliki gen cry
dari gen cry1, meski belum tentu dari jenis gen cry1 yang sama. Gen cry1
merupakan salah satu gen cry yang umum ditemukan pada B. thuringiensis
subsp. kurstaki (Schnepf et al 1998; Kuo & Chak 1996). Profil umum gen
cry1 yang ditemukan pada B. thuringiensis merupakan jenis cry1A (Bravo et
al 1998; Cerón  et al 1995). Informasi ini selanjutnya dapat digunakan
untuk melihat apakah gen yang ada dalam isolat TU1 dari jenis gen  cry1
yang berbeda, dengan urutan sekuen nukleotida yang tidak sama atau jenis
gen cry1 yang sudah pernah diketahui sebelumnya. 

Untuk menetapkan kedekatan mikroba  secara genetik saat ini beberapa
metode molekuler seperti PFGE, amplifikasi PCR dan pengurutan gen rRNA
sering digunakan. PFGE sudah digunakan misalnya untuk membedakan
isolat klinis B. cereus (Liu et al 1997) dan B. thuringiensis (Rivera & Priest
2003). Pola pita PFGE yang dihasilkan setelah pemotongan DNA kromosom
dengan enzim restriksi yang tepat merupakan suatu teknik yang pasti untuk
dapat mengenali bakteri yang sangat dekat kekerabatannya. Dalam
penelitian kami menggunakan teknik PFGE untuk mengetahui kedekatan
kekerabatan antara isolat TU1 dengan  B. thuringiensis dari bioinsektisida
komersial yang diuji. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kedua isolat
mempunyai pola profil yang sama dengan pemotongan enzim restriksi SmaI
(Suryanto 2009). Rivera & Priest (2003) melihat pola yang sama dapat
terjadi karena kesamaan gen cry yang dikandung bakteri B. thuringiensis
Mikroba Kitinolitik dan Pengendalian Jamur Patogen Tanaman

Hadirin yang saya muliakan,

Dalam penelitian kami, telah dilakukan kajian kemungkinan penggunaan
isolat bakteri  indigenous untuk dikembangkan sebagai biopestisida dengan
cara mengisolasi, menseleksi, dan menguji daya bunuh atau daya hambat
pertumbuhan organisme pengganggu. Satu kelompok organisme yang
memiliki potensi sebagai agen pengendali hayati jamur berasal dari
kelompok mikroba penghasil kitinase. Pengendalian hayati jamur dengan
menggunakan mikroba kitinolitik didasarkan pada kemampuan mikroba
menghasilkan kitinase dan  β-1,3-glucanase yang dapat melisis sel jamur
(El-Katatny et al 2000). Disamping sebagai agen pengendali hayati, bakteri
kitinolitik digunakan untuk menghasilkan derivat kitin yang banyak
dimanfaatkan dalam berbagai bidang seperti dalam bidang biokimia,
bioteknologi, farmakologi, medis dan industri, misalnya sebagai bahan
kosmetik, kapsul obat dan makanan hewan (Muzzarelli 1985).

Banyak organisme seperti bakteri, jamur, tumbuhan tingkat tinggi, dan
hewan menghasilkan kitinase yang mengkonversi kitin menjadi monomer
atau oligomernya (Fujii & Miyashita 1993; Ohno et al 1996; Wen et al 2002;
Tsujibo et al 2003). Organisme ini biasanya memiliki beragam gen kitinase
yang ekspresinya diinduksi oleh kitin ekstraseluler atau derivatnya. Bakteri
memanfaatkan kitinase untuk asimilasi kitin sebagai sumber karbon dan
nitrogen. Pada tumbuhan, kitinase digunakan sebagai pertahanan melawan
serangan organisme patogen yang mengandung kitin (Fujii & Miyashita
1993; Wu et al,2001). Jamur dan serangga menggunakan enzim ini untuk
morfogenesis dinding sel dan pembangun eksoskeleton (Shaikh &
Desphande 1993). Hal ini mungkin berhubungan dengan tersebarnya bahan
kitin di alam seperti pada jamur, alga, nematoda, kelompok artropoda dan
krustacea, molluska, coelenterata, protozoa, dan fungi (Folders et al 2001;
Orikoshi  et al 2003). Meski demikian gen-gen penyandi kitinase bagi
organisme merupakan gen non esensial (Cottrell  et al 2000). Melihat
kenyataan ini eksplorasi kitinase dapat dilakukan dimana saja mulai dari
tanah, rizosfer, air tawar, air laut, dan tumbuhan. 

Kemampuan kitinolitik bakteri  Aeromonas caviae telah digunakan untuk
mengendalikan beberapa jamur patogen tanaman (Inbar & Chet 1995).
Lebih lanjut, Gohel  et al (2003) melihat bakteri kitinolitik seperti  A.
hydrophila,  A. caviae, Pseudomonas maltophila, Bacillus licheniformis, B.
circulans, Vibrio furnissii, Xanthomonas  spp., dan  Serratia marcescen
memainkan peranan penting dalam pengendalian hayati jamur patogen
tanaman. Galur  S. marcescens dimanfaatkan untuk mengendalikan jamur
patogen seperti Sclerotium  rolfsii (Ordentlich et al 1988). Gen chiA dari S.
marcescens telah pula dimanfaatkan melalui kloning pada  P.  fluorescens
(Downing & Thomson 2000). Bakteri lain yang juga digunakan sebagai
pengendali hayati komersial seperti  P. syringae,  Burkholderia cepacia,  B.
subtilis,  Agrobacterium  radiobacter,  Enterobacter  cloacae, dan
Streptomyces griseoviridis (Fravel et al 1998; McQuilken et al 1998).

Isolasi yang telah dilakukan dari beberapa daerah di Sumatera Utara dan
Bangka memperoleh sedikitnya 35 isolat bakteri kitinolitik. Berdasarkan
pengamatan morfologi, pewarnaan gram, dan uji biokimia 35 isolat ini
memiliki ciri dan sifat yang berbeda meski beberapa memiliki kesamaan.
Dalam penelitian, kami menguji potensi isolat bakteri kitinolitik tersebut
dalam menghambat pertumbuhan beberapa jamur patogen tanaman seperti
G. boninense,  F. oxysporum, dan  P. Citrinum (Suryanto  et al 2009a;
Suryanto  et al 2009e). Penelitian ini memperoleh beberapa isolat bakteri
kitinolitik yang potensial untuk dikembangkan sebagai agen pengendali
hayati jamur patogen tanaman.

Uji pendahuluan yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan bakteri
kitinolitik menunjukkan bahwa terdapat isolat bakteri kitinolitik yang
mampu menghambat pertumbuhan jamur uji. Meski demikian, kemampuan
menghambat pertumbuhan jamur uji bervariasi (Suryanto  et al 2009a;
Suryanto et al 2009b; Suryanto et al 2009e). Hal ini menunjukkan bahwa
spesifisitas masing-masing bakteri berbeda. Perbedaan tersebut dapat
berasal dari kemampuan yang berbeda dalam menghasilkan enzim-enzim
yang mampu mendegradasi dinding sel jamur (Suryanto  et al 2009e).
Pemanfaatan isolat bakteri kitinolitik dimulai dengan penelitian penggunaan
isolat tersebut sebagai agen pengendali hayati jamur  F. oxysporum yang
menyerang benih cabe dengan metode pembalutan benih. Hasil penelitian
menunjukkan adanya potensi penghambatan jamur patogen tersebut oleh
isolat bakteri kitinolitik (Suryanto et al 2009a; Suryanto et al 2009e).

Identifikasi parsial gen 16S rRNA (sekitar 500 bp) dengan primer yang
digunakan Marchesi et al (1998) melalui teknik PCR dan sekuen urutan gen
telah dilakukan terhadap isolat  yang dianggap potensial untuk
dikembangkan sebagai agen pengendali 3 jamur penyebab penyakit
tersebut di atas. Salah satu isolat  yang telah diidentifikasi menunjukkan
kedekatan dengan  S. marcescens (Suryanto  et al 2009e).  Serratia
merupakan salah satu jenis bakteri yang dikenal menghasilkan kitinase.
Beberapa penelitian telah menggunakan Serratia dalam pengendalian jamur
dan serangga (Ordentlich et al 1988; Downing & Thomson 2000). Hasil di
atas menunjukkan bahwa beberapa isolat bakteri  indigenous dapat
dikembangkan sebagai agen pengendali hayati jamur penyebab penyakit
tanaman yang penting.


Bioremediasi dan Biodegradasi

Hadirin yang saya muliakan,

Bioremediasi merupakan teknik yang potensial untuk membersihkan daerah
terkontaminasi bahan pencemar (Blasco  et al  1997; Laine & Jorgensen
1996). Teknologi bioremediasi secara sederhana merupakan usaha untuk
mengoptimalkan kemampuan alami mikroorganisme untuk mendegradasi/
mendaur ulang dengan memberikan reaktan anorganik esensial dan
meminimumkan tekanan abiotik (Portier 1991). Teknologi ini sangat
berguna dan dapat digunakan pada berbagai tahapan perlakuan. Terdapat
tiga prinsip dalam teknologi bioremediasi, yaitu pelepasan langsung
mikroba ke lingkungan terkontaminasi, peningkatan kemampuan mikroba
asli, dan penggunaan mikroba dalam reaktor khusus (Portier 1991).

Pekerjaan bioremediasi dimulai dengan mengisolasi bakteri potensial dalam
mendegradasi berbagai senyawa toksik dan meremediasi logam. Penelitian
yang telah dilakukan menunjukkan banyak mikroba indigenous yang dapat
digunakan untuk tujuan ini. Degaradasi senyawa hidrokarbon aromatik
monosiklik seperti benzoat dilakukan oleh bakteri seperti
Rhodopseudomonas palustris dan  S. marcescens (Suryanto & Suwanto
2000). Beberapa bakteri juga diketahui mampu tumbuh pada fenol,
salisilat, dan gentisat (Suryanto & Suwanto 2000). Isolat-isolat  indigenous
asal Sumatera Utara hasil seleksi menunjukkan kemampuan dalam
mendegradasi minyak solar (Fachrian 2006) dan meremediasi logam
(Kaban 2005). Untuk membantu proses bioremediasi seperti bioremediasi
senyawa hidrofobik diperlukan penurun tegangan muka seperti surfaktan.
Pekerjaan isolasi dan pengujian isolat penghasil biosurfaktan dari Sumatera
Utara sedang dilakukan.


Potensi Mikroba dari Kearifan Lokal

Hadirin yang saya muliakan,

Banyak makanan dan minuman tradisional Indonesia seperti tempe, kecap,
terasi/belacan, rusip, calok, oncom, gatot, tape, tempoyak, tuak/arak, serta
minuman obat yang pembuatannya melibatkan berbagai mikroba. Di Desa
Pancur Batu, Deli Serdang, Sumatera Utara, misalnya, masyarakat
menggunakan kepiting batu untuk pembuatan minyak kelapa (virgin
coconut oil) secara fermentasi. Menurut masyarakat, minyak kelapa yang
diproses dengan cara ini berwarna bening dan berbau harum. Penelitian
yang telah kami lakukan bertujuan mengisolasi bakteri dari kepiting batu
dan melihat potensinya dalam pembuatan minyak kelapa. Kajian seperti ini
merupakan contoh dalam menginventarisasi potensi mikroba yang
berasosiasi dengan teknik pembuatan makanan dan minuman lokal serta
keperluan farmasi lain yang dilakukan secara tradisional oleh suku-suku
yang ada di Sumatera Utara.

Penelitian yang kami lakukan terhadap proses pembuatan minyak kelapa
menunjukkan bahwa semua isolat yang diisolasi dari kepiting batu memiliki
kemampuan untuk memfermentasi santan kelapa menjadi minyak kelapa,
walau kemampuan yang dimiliki masing-masing isolat tersebut berbeda.
Isolat SKN06 yang diidentifikasi sebagai Citrobacter sp. dari kepiting batu
memiliki kemampuan menghasilkan minyak kelapa yang hampir sama
dengan  Saccharomyces cerevisiae, ragi yang sering digunakan dalam
proses fermentasi ini. Minyak kelapa yang dihasilkan dari fermentasi santan
kelapa oleh isolat yang berasal dari kepiting batu rata-rata memiliki kadar
air yang relatif rendah bahkan lebih rendah daripada kadar air minyak
kelapa dari  S. cerevisiae dengan angka asam minyak kelapa relatif sama
dengan angka asam minyak kelapa hasil fermentasi dengan S. cerevisiae.
Pengamatan terhadap warna minyak hasil fermentasi menunjukkan bahwa
minyak hasil fermentasi berwarna lebih bening dan jernih dibandingkan
dengan warna minyak kelapa yang diperoleh dari pasar yang diketahui
merupakan hasil proses pemanasan santan (Suryanto et al 2005).


Protein Sel Tunggal

Hadirin yang saya hormati,

Sumber PST berasal dari beberapa jenis mikroba sel tunggal. Istilah PST
mempunyai arti sel mati atau sel kering mikroba seperti ragi, bakteri, fungi,
dan ganggang yang ditumbuhkan pada berbagai macam sumber karbon
yang berbeda. PST sering dimanfaatkan sebagai pengganti protein dari
sumber konvensional pada pakan ternak dan bahan pangan (Khan  et al
1992). Pengembangan ini dimungkinkan karena mikroba dapat digunakan
untuk memfermentasi beberapa bahan limbah seperti jerami, kayu dan
limbah kayu, limbah makanan dan proses pembuatan makanan, residu dari
pembuatan alkohol, atau dari kotoran manusia dan hewan. Proses ini juga
sekaligus merupakan salah satu cara pengolahan limbah.

Organisme terutama ganggang seperti Chlorella dan Spirulina (Cifferi 1983;
Duerr et al 1998) dan ragi Saccharomyces, Candida, Pichia dan Hansenula
(Omar & Sabry 1991; Coreghino et al 2002), jamur seperti Penicillium dan
Aspergillus (Khan et al 1992; Anupama & Ravindra 2001; Lacina et al 2003;
Ravinder et al 2003), dan bakteri (Phetteplace et al 2000) telah digunakan
untuk menghasilkan PST. Beberapa peneliti menggunakan BFA sebagai PST
(Sasaki et al 1981; Kobayashi & Kobayashi 1995; Kim & Lee 2000). Sumber
C seperti metana, metanol, etanol, lignoselulosa, dan laktosa sering
digunakan dalam produksi PST ini (Malick et al 1976; Omar & Sabry 1991;
Khan et al 1992;,Anupama & Ravindra 2001).

Dibandingkan dengan ganggang mikro dan ragi bahkan dengan sumber
protein umum seperti daging dan susu, bakteri fotosintetik mempunyai
beberapa keunggulan sebagai diet. Kandungan protein PST bakteri ini lebih
tinggi dibandingkan dengan PST dari ragi dan ganggang (Kobayashi &
Kobayashi 1995). Sebagai pembanding kandungan protein pada susu
sekitar 4%, ayam, daging sapi dan daging lainnya sekitar 19%, telur sekitar
13%, dan kacang-kacangan sekitar 22%, sedangkan PST dari ragi
mengandung sekitar 55% dan bakteri sekitar 80% (Malick  et al 1976;
Kobayashi & Kobayashi 1995). Bakteri ini juga dapat menghasilkan bahan
organik berharga lainnya (Kobayashi & Kobayashi 1995; Kim & Lee 2000).
Disamping itu PST dapat dengan cepat diproduksi dan seluruh bagian dapat
dikonsumsi (Malick  et al 1976). Kultur sel bakteri fototrofik digunakan
sebagai pakan oleh organisme lain di perairan dan tanah (Kobayashi &
Kobayashi 1995; Kim & Lee 2000), dan juga dapat menjadi pupuk hayati
(Kobayashi & Kobayashi 1995; Irawan  et al 2000). Potensi produktivitas
PST sangat tinggi dibandingkan dengan protein konvensional. Satu pabrik
PST yang dapat membuat 100.000 ton/tahun dapat memproduksi protein
setara dengan 120.000 ha kedele, atau sebanyak sapi yang dibesarkan
pada lahan rumput seluas 2 juta ha (Malick et al 1976).

Pekerjaan yang sedang dilakukan saat ini yang berhubungan dengan
biodegradasi sekaligus memanfaatkan isolat bakteri pendegradasi berupa
pemanfaatan BFA untuk konversi limbah tepung menjadi PST. Pekerjaan ini
dilakukan untuk mencari alternatif  protein pengganti yang selama ini
digunakan untuk membuat pakan ternak dan ikan. Pekerjaan awal
mengindikasikan adanya BFA yang mampu menggunakan limbah tapioka
dan limbah gliserol sebagai hasil samping pembuatan minyak kelapa sawit
sebagai sumber C dan energi. Disamping itu telah juga dilakukan
pengukuran protein sel (Suryanto & Listiani 2009c). Optimasi pertumbuhan
untuk meningkatkan jumlah sel sedang dilakukan. Pembuatan pelet dengan
mensubstitusi protein konvensional  dengan PST dan mencobanya sebagai
pakan ikan merupakan kegiatan penelitian berikutnya.

Kemampuan BFA menggunakan sumber C seperti pati telah dilaporkan. R.
palustris strain B1 mampu menggunakan dengan baik beberapa pati seperti
pati kentang, sagu,  soluble  starch, dan tapioka untuk pertumbuhan.
Sementara strain ini kurang mampu  tumbuh pada pati jagung, gandum,
ketam, beras,  starch, dan  raw starch (Sathappan 1997). Meski demikian
tidak menutup kemungkinan bahwa BFA lain dapat memetabolisme pati
dengan lebih baik dengan sumber pati yang lebih beragam. Kemampuan
BFA menggunakan sumber C ini mengindikasikan bahwa BFA mampu
mengkonversi limbah pabrik tepung dengan baik.


Termofil dan Potensi Hidrolase

Hadirin yang saya hormati,

Eksplorasi terhadap mikroba ekstrimofil yang  hidup pada suhu sangat
rendah (psikrofil) atau sangat tinggi (termofil dan hipertermofil), pH ekstrim
(asidofil dan alkalifil), dan kadar garam tinggi (halofil) telah dilakukan
orang. Di Indonesia kajian tentang mikroba seperti ini belum lama dimulai.
Penelitian terutama diarahkan kepada melihat keanekaragaman bakteri dan
mengisolasi enzim hidrolase termofil yang bekerja pada suhu tinggi dan pH
ekstrim. Kebanyakan kajian seperti ini dilakukan oleh ahli dari Pulau Jawa.
Untuk wilayah Sumatera Utara upaya mulai dilakukan sekitar 3 tahun lalu
dengan mengisolasi bakteri dan menguji aktifitas enzim hidrolase kasar
(protease) dari sumber air panas Lau Debuk-debuk (Herlambang  et al
2006). Hasil penelitian ini kemudian merupakan dasar untuk melakukan
pekerjaan serupa terhadap mikroba dari berbagai sumber air panas yang
ada di Sumatera Utara. 

Pemanfaatan enzim tahan panas di bidang industri memiliki keuntungan
karena banyak proses industri  yang dilakukan pada suhu tinggi.
Peningkatan suhu dapat meningkatkan  laju difusi dan kelarutan berbagai
senyawa. Karena memiliki struktur dan sifat yang tidak lazim, kelompok
enzim termofil menjadi subjek berbagai penelitian dan percobaan dalam
bidang biologi molekuler protein. Mikroba penghasil enzim termofil biasa
hidup di lingkungan dengan suhu di atas 50ºC seperti di sumber air panas,
kawah, dan sedimen geotermal lainnya (Brock 1986).

Eksplorasi bakteri termofil dari beberapa sumber air panas yang ada di
Sumatera Utara seperti dari Lau Debuk-debuk, Tangkahan, Gurukinayan,
Sipaholon, Tinggi Raja, dan Penen memperlihatkan adanya bakteri yang
tumbuh pada kisaran suhu antara 50-70ºC bahkan lebih, yang
menghasilkan enzim-enzim hidrolase termofil seperti amilase, protease dan
kitinase yang memiliki potensi dalam bidang industri dan pangan. Pengujian
enzim kasar berdasarkan suhu dan pH telah dilakukan. Beberapa isolat
indigenous ini menunjukkan adanya potensi enzim termofil yang baik.
Penelitian purifikasi enzim, penentuan jenis mikroba berdasarkan gen 16S
rRNA, dan pengujian pengaruh logam dan agen pengkelat terhadap aktifitas
enzim sedang disiapkan. 


HARAPAN-HARAPAN

Hadirin yang saya muliakan,

Dari penelitian yang telah dilakukan terlihat bahwa potensi sumberdaya
hayati di Indonesia khususnya Sumatera Utara sangat besar dan perlu terus
digali. Keanekaragaman jenis yang luar biasa sekaligus menunjukkan
keanekaragaman genetik memungkinkan dikembangkannya alternatif-
alternatif dalam menyelesaikan masalah di bidang industri, pertanian,
kesehatan, dan lingkungan, seperti pembuatan benih tahan penyakit
dengan teknik pelapisan benih, pembuatan bioinsektisida berbasis bakteri,
penyiapan tanaman tahan penyakit melalui penyisipan gen cry dan kitinase
dari isolat bakteri indigenous ke dalam tanaman, pemanfaatan gen-gen dan
enzim-enzim hidrolase termofil dalam  industri, dan isolasi dan elusidasi
struktur senyawa hayati dalam jamur dan tumbuhan etnobotani yang
memiliki potensi sebagai obat. Pengembangan isolat dan potensi
keanekaragaman hayati ini masih memerlukan tahapan yang cukup panjang
sebelum menuju komersialisasi dalam skala industri. Pencarian terhadap
strain-strain baru tetap perlu dilakukan untuk tujuan komersial. Penelitian-
penelitian yang dilakukan diharapkan memberikan dampak terhadap
perkembangan industri dalam negeri dengan memanfaatkan potensi
keanekaragaman sumberdaya hayati indigenous yang ada di negeri sendiri.
Potensi keanekaragaman hayati yang dimiliki ini seharusnya menyadarkan
kita bahwa kita rentan terhadap pembajakan kekayaan hayati (biopiracy)
yang sering dilakukan oleh negara-negara maju. Pengembangan terhadap
potensi hayati oleh negara maju kemudian menghasilkan produk dengan
nilai tambah yang luar biasa besarnya, dan kita hanya jadi penonton setia.
Sebagai konsekuensi logis dari upaya pelestarian ini perlu dilakukan
penelitian secara berkesinambungan dan pemeliharaan (menjaga) kekayaan
hayati secara in situ dan ex situ. Secara ex situ jelas menghendaki adanya
koleksi berbagai keanekaragaman hayati ini di kampus USU, misalnya
melalui koleksi mikroba di laboratorium dan membangun tempat untuk
memelihara keanekaragaman hayati lain seperti  Mini Botanical Garden
untuk tumbuhan. Jika memang hal ini dapat dilakukan bukan tidak mungkin
USU dapat menjadi salah satu tempat terhimpunnya plasma nutfah. Di sisi
lain, USU memiliki kemampuan melakukan penelitian potensi lokal yang
salah satunya berbasis keanekaragaman hayati.


UCAPAN TERIMA KASIH

Hadirin yang saya muliakan,

Izinkan saya atas nama pribadi dan keluarga mengucapkan terima kasih
dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah
membantu dan memotivasi saya dalam meniti karier.

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Pemerintah Republik
Indonesia melalui Mendiknas yang telah memberikan kepercayaan kepada
saya memegang amanah yang berat menjadi Guru Besar, dan yang telah
memberikan kesempatan melanjutkan pendidikan dan berkarya sebagai
dosen di Universitas Sumatera Utara.

Penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih yang tulus
ditujukan kepada Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. Chairuddin P
Lubis, DTM&H, SpA(K), yang telah mempercayakan saya mengemban
amanah dan tugas, memberikan perhatian penuh, dan membantu karier
saya sebagai dosen di Universitas Sumatera Utara.

Terima kasih saya juga tertuju kepada para Pembantu Rektor, Senat
Akademik, dan Dewan Guru Besar yang telah banyak membantu dan
mendorong dalam proses pengusulan jabatan Guru Besar saya.

Kepada Dekan Fakultas MIPA, Prof. Dr. Eddy Marlianto, M.Sc. ucapan terima
kasih saya sampaikan atas segala perhatian, kebaikan, dan dukungan
dalam tugas keseharian maupun pada saat pengusulan jabatan Guru Besar
saya.

Kepada Guru-guru saya di SD, SMP, dan SMA, terima kasih atas segala
perhatian, pengertian, kesabaran, dan jasa yang telah diberikan yang tak
mungkin bisa saya balas. Tanpa Bapak dan Ibu sekalian saya tidak mungkin
berdiri di sini.

Terima kasih kepada dosen-dosen saya di Fakultas Biologi UGM Yogyakarta,
terutama Prof. Dr. Jusup Subagja, di Michigan State University, East
Landing, Amerika Serikat, terutama Dr. James W Johnson, dan di PS Biologi
Sekolah Pascasarjana IPB Bogor yang telah mengajarkan kebenaran dan
objektivitas keilmuan.

Kepada Prof. Dr. Antonius Suwanto, Prof. Dr. Maggy T Suhartono, Dr. Anja
Merjandini, Prof. Dr. Bibiana W Lay, dan Prof. Dr. Muhammad Sri Saeni
(alm.), promotor dan ko-promotor saya, terima kasih tak terhingga dan
rasa takjub saya atas segala kebaikan, bimbingan, keterbukaan,
persahabatan, dan keakraban yang luar biasa yang saya rasakan selama
saya menjadi mahasiswa S3 di IPB Bogor.

Kepada orang tua-orang tua saya, Ir. Guslim, MS, Drs. Jusran RC, dan A
Rambe sekeluarga, terima kasih atas bantuan dan nasehatnya.
 
Rekan-rekan dosen di Departemen Biologi, Prof. Dr. Erman Munir, Prof. Dr.
Ing. Ternala A Barus, M.Sc., Prof. Dr. Retno Widhiastuti, serta dosen-dosen
lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, saya mengucapkan banyak
terima kasih atas dorongan, motivasi, dan kebersamaan selama ini.

Kepada Ibu dr. Linda Trimurni Maas, MPH dan teman-teman saya di UBK
Sahiva, Drs. Zulkifli Lubis, M.A., Dr. Albiner Siagian, Lita Handayani, SKM,
M.Kes, Evi Karota Bukit, S.Kep., MNS, Oding Affandi, S.Hut, M.Hut.,
Rulianda P Wibowo SP, M.Ec., dan teman-teman di SEC, Dr. Isfenti Sadalia,
Arwina Mufika, SE, M.Si., Ir. Diana Chalil, Ph.D, dan Ir. Buchori, M.Kes.
terima kasih atas dorongan semangat dan optimisme yang luar biasa
menghadapi hari esok.

Kepada Ir. E Harso Kardhinata, M.Sc., Dra. Sartini, M.Sc., Drs. Riyanto,
M.Sc., Drs. Kiki Nurtjahja, M.Sc., Dra. Nunuk Priyani, M.Sc, Dra. Meida
Nugrahalia, M.Sc., Drs. Tata Bintara Kelana, M.Si. (alm.), dan Drs. Afrin Z
Ritonga, terima kasih atas kebersamaan dan persahabatan yang tulus.
Kepada mahasiswa, saya mengucapkan banyak terima kasih atas
penerimaan diri saya sebagai seorang yang diamanahkan membagi ilmu,
dan sebagai sahabat.

Kepada semua pihak yang telah banyak membantu yang tidak bisa saya
sebutkan dalam kesempatan ini, saya juga mengucapkan banyak terima
kasih.

Terkhusus kepada yang saya cintai Bapak saya Moehammad Sahoeri (alm.)
dan Ibu saya Sujatmi (almh.) yang  telah melahirkan, membesarkan dan
mendidik serta yang telah mengajarkan banyak kebaikan, kejujuran dan
kebersahajaan, juga kepada Bapak mertua saya Agus Nasution (alm.) dan
Ibu mertua saya Amnah Lubis (almh.) yang telah memberikan dukungan
dan motivasi yang besar sehingga saya menjadi seperti saat ini; kepada
mereka saya tidak lagi bisa menyampaikan ucapan terima kasih. Hanya doa
semoga Allah mengampuni segala  dosa dan kesalahan dan menerima
segala amal kebaikan orang tua kami.

Kepada Istri saya Siti Khadijah Nasution, S.Si., sulit rasanya menemukan
kata-kata yang pantas dan sesuai untuk menyampaikan rasa terima kasih
saya yang dalam. Semoga Allah selalu membimbing segala doa, cinta dan
ketulusan yang diberikan. Bersamamu saya menemukan ketenangan dan
kedamaian hidup.

Kepada anak-anak saya Muhammad Aditya Haryawan, Nindya Laksita
Laras, dan Aisyah Anindita Prameswari terimakasih untuk tetap bercahaya
dalam hidup saya. Tetaplah jadi anak yang baik. Bapak mencintaimu.

Mudah-mudahan Allah menerima amal baik Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan
rekan serta sahabat saya semua. Amien.


DAFTAR PUSTAKA

Agaisse H, Lereclus D. 1995. How does  Bacillus thuringiensis  produce so
much insecticidal crystal protein? J Bacteriol 21: 6027-6032. 

Anupama, Ravindra P. 2001.,Studies on production of single cell protein by
Aspergillus niger in solid state fermentation of rice bran.  Braz Arch
Biol Technol. 44: 79-88.

Baum JA, Kakefuda M, Gawron-Burke C. 1996. Engineering  Bacillus
thuringiensis  bioinsecticides with an indigenous site-specific
recombination system. Appl Environ Microbiol 62: 4367-4373. 

Becker N, Margalit J. 1993. Use of Bacillus thuringiensis israelensisagainst
mosquitoes and blackflies. In Bacillus thuringiensis, an environmental
biopesticide: Theory and practice.  Ed. Entwistle PF, Cory PF, Bailey
MJ, Higgs S. J Wiley & Sons. New York. NY. 145–170.

Ben-Dov E, Wang Q, Zaritzky A, Manasherob R, Barak Z, Schneider B,
Khamraev A, Baizhanov M, Glupov V, Margalith. 1999. Multiplex PCR
screening to detect cry9 genes in Bacillus thuringiensis strains. Appl
Environ Microbiol 65: 3714-3716.

Ben-Dov E, Zaritsky A, Dahan E, Barak Ze’ev, Sinai R, Manasherob R,
Khamraev A, Troitskaya E, Dubitsky A, Berezina N, Margalith Y, 1997.
Extended screening by PCR for seven  cry-group genes from field-
collected strains of Bacillus thuringiensis. Appl Environ Microbiol 63:
4883–4890.

Blasco R. Mallavarapu M, Wittich R, Timmis KN, Pieper DH. 1997. Evidence
that formation of protoanemonin from metabolites of 4-
chlorobyphenyl-cometabolizing microorganisms.  Appl Environ
Microbiol 63: 427-434.

Boh B, Hodžar D, Dolničar D, Berovič M, Pohleven F. 2000. Isolation and
quantification of triterpenoid acids from  Ganoderma  applanatum of
Istrian origin. Food Technol Biotechnol 38: 11–18. 

Bravo A, Sarabia S, Lopez L, Ontiveros H, Abarca C, Ortiz A, Ortiz M, Lina L,
Villalobos FJ, Pen AG, Nunez-Valdez M-E, Soberon M, Quintero R.
1998. Characterization of  cry  genes in a Mexican  Bacillus
thuringiensis strain collection. Appl Environ Microbiol. 64: 4965-4972.
Brock TD. 1986. Introduction: An  overwiew of the thermophiles.  In
Thermophiles: General, molecular, and applied Microbiology. Ed. T.D
Brock. John Wiley & Sons. New York. 1-16.

Bull AT, Hardman DJ. 1991. Microbial Diversity. Curr Op Biotechnol 2: 421-
428. 

Bull AT, Ward AC, Goodfellow M. 2000. Search and discovery strategies for
biotechnology: the paradigm shift. Microbiol Mol Biol Rev 64: 573-
606.

Cereghino GPL, Cereghino JL, Ilgen C & Cregg JM. 2002. Production of
recombinant proteins in fermenter cultures of the yeast  Pichia
pastoris. Curr Op Biotechnol 13: 329–332.

Cerón J, Ortíz A, Quintero R, Güereca L, Bravo A. 1995. Specific PCR
primers directed to identify  cryI  and  cryIII genes within a  Bacillus
thuringiensis strain collection. Appl Environ,Microbiol 61: 3826-3831.

Cifferi O. 1983. Spirulina, the edible microorganism. Micobiol Rev 47: 551-
578.

Cottrell MT, Wood DN, Yu L, Kirchman DL. 2000. Selected chitinase genes in
cultured and uncultured marine bacteria in the a- and g-subclasses of
the Proteobacteria. Appl Environ Microbiol 66: 1195-1201. 

Downing KJ, Thomson JA. 2000. Introduction of the  Serratia marcescens
chiA gene into an endophytic Pseudomonas fluorescens for biocontrol
of phytopathogenic fungi. Can J Microbiol 46: 363-369.

Duerr EO, Molnar A, Sato V. 1998. Cultured microalgae as aquaculture
feeds. J Mar Biotechnol 7: 65-70.

Dunham M. 2000. Potential of fungi used in traditional Chinese medicine: II
Ganoderma. http://www.oldkingdom/UG-projects/Mark-Dunham/Mark-
Dunhamhtml. 02/04/2004.

El-Katatny MH. Somitsch W, Robra K-H, El-Katatny MS, Gübitz GM. 2000.
Production of chitinase and  β-1,3-glucanase by  Trichoderma
harzianum  for control of the phytopathogenic fungus  Sclerotium
rolfsii. Food Technol Biotechnol,38: 173–180. 

Fachrian R. 2006. Isolasi bertahap dan uji potensi bakteri laut pendegradasi
minyak solar. Skripsi. Departemen Biologi. Fakultas MIPA. USU.
Medan.

Folders J, Algra J, Roelofs MS, Van Loon LC, Tommassen J, Bitter W. 2001.
Characterization of  Pseudomonas aeruginosa  chitinase, a gradually
secreted protein. J Bacteriol 183: 7044-7052.

Fravel DR, Connick Jr, WJ, Lewis JA. 1998. Formulation of microorganisms
to control plant diseases. In Formulation of microbial biopesticide. Ed.
Burges HD. Kluwer Academic Press. Dordrecht. 187-202.

Fujii T, Miyashita K. 1993. Multiple  domain structure in a chitinase gene
(chiC) of Streptomyces lividans. J Gen Microbiol 139: 677-686.

Gohel V, Singh A, Vimal M, Ashwini D, Chatpar HS. 2003. Bioprospecting
and antifungal potential of chitinolytic microorganism.  African J
Biotechnol 5: 54-72.

Herlambang MS, Priyani N, Nurtjahja K, Suryanto D. 2006. Isolation of
proteolitic thermophilic bacteria from hot spring of Semangat Gunung
Village, Simpang Empat, Karo, North Sumatra. Proceedings: The Fifth
Regional IMT-GT Uninet Conference & International Seminar 2006:
72-77.

Inbar J, Chet I. 1995. The role of recognition in the induction of specific
chitinases during mycoparasitism by  Trichoderma harzianum.
Microbiol 141:2823–2829.

Irawan, Suwanto A, Tjondronegoro PW. 1998. Isolasi dan penapisan bakteri
fotosintetik anoksigenik penghasil asam  δ–aminolevulinat
ekstraseluler. Hayati 5: 98-102. 

Itoua-Apoyolo C, Drif L, Vassal JM, Debarjac H, Bossy JP, Leclant F, Frutos
R. 1995. Isolation of multiple subspecies of  Bacillus thuringiensis
from a population of the European sunflower moth,  Homoeosoma
nebulella. Appl Environ Microbiol 61: 4343-4347.

Kaban V. 2005. Sensitivitas bakteri tanah terhadap logm berat Cd, Cu, Ni,
dan Zn. Skripsi. Departemen Biologi. Fakultas MIPA. USU. Medan.

Kawalek MD, Benjamin S, Lee HL, Gill SS. 1995. Isolation and identification
of novel toxins from a new mosquitocidal isolate from Malaysia,
Bacillus thuringiensis  subsp.  jegathesan.  Appl Environ Microbiol 61:
2965-2969.

Khan MY, Dahot MU, Khan MY. 1992. Single cell protein production by
Penicillium javanicum from pretreated rice husk. J Islamic Acad Sci 5:
39-43.

Kim JK, Lee BK. 2000. Mass production of Rhodopseudomonas palustris as
diet for aquaculture. Aquacult Engine 23: 281-293. 

Kobayashi M, Kobayashi M. 1995. Waste remediation and treatment using
anoxygenic photosynthetic bacteria.  In  Anoxygenic photosynthetic
bacteria. Ed. Blakenship RE, Madigan MT, Bauer CE. Kluwer Academic
Publishers. The Netherlands. 1269-1282.

Kuo W-H, Chak K-F. 1996. Identification of novel  cry-type genes from
Bacillus thuringiensis strains on the basis of restriction fragment
length polymorphism of the PCR-Amplified DNA.  Appl Environ
Microbiol 62: 1369-1377. 

Lacina C, Germain G, Spiros AN. 2003. Utilization of fungi for biotreatment
of raw wastewaters. African J Biotechnol 2: 620-630.

Laine MM, Jorgensen KS. 1996. Straw compost and bioremediated soil as
inocula for the bioremediation of chlorophenol-contaminated soil.
Appl Environ Microbiol 62: 1507-1513.

Lambert B, Buysse L, Decock C, Jansens S, Piens C, Saey B, Seurinck J, Van
Audenhove K, Van Rie J, Van Vliet A, Peferoen M. 1996. A Bacillus
thuringiensis  insecticidal crystal protein with a high activity against
members of the family Noctuidae. Appl Environ Microbiol 62: 80-86. 

Lambert B, Peferoen M. 1992. Insecticidal promise of Bacillus thuringiensis:
Facts and mysteries about a successful biopesticide.  BioScience
42:112–122.

Liu P Y-F, Ke S-C, Chen S-L, 1997. Use of pulsed-field gel electrophoresis to
investigate a pseudo-outbreak of Bacillus cereus in a pediatric unit. J
Clin Microbiol 35: 133-1535.

López-Meza JE, Ibarra JE. 1996. Characterization of a novel strain of
Bacillus thuringiensis. Appl Environ Microbiol 62: 1306-1310. 
Malick EA, Hitzman DO, Wegner EH, Case NL, Hawkins HM. 1976. Single cell
protein: Its status and future implications in world food supply.
Second Arab Conference on Petrochemicals. Abu Dhabi (United Arab
Emirates). 254-281.

Marchesi JR, Sato T, Weightman AJ, Martin TA, Fry JC, Hiom SJ, Wade WG.
1998. Design and evaluation of useful bacterial specific PCR primers
that amplify genes coding for bacterial 16S rRNA.  Appl Environ
Microbiol 64: 795-799.

Masson L, Erlandson M, Puzstai-Carey M, Brousseau R, Jua´rez-Pe´rez V,
Frutos R. 1998. A holistic approach for determining the
entomopathogenic potential of  Bacillus thuringiensis  strains.  Appl
Environ Microbiol 64:4782–4788.

McQuilken MP, Halmer P, Rhodes DJ. 1998. Application of microorganisms
to seeds.  In Formulation of microbial  biopesticides: Beneficial
microorganisms, nematodes and seed treatments.  Ed. Burges HD.
Kluwer Academic Press. Dordrecht. 255-285.

Muzzarelli RAA. 1985. Chitin.  In The polysaccharides. Ed. Aspinall GO.
Academic Press, Inc. Orlando. 417-450. 

Ohno T, Armand S, Hata T, Nikaidou N, Henrissat B, Mitsutomi M, Watanabe
T. 1996. A modular family 19 chitinase found in the prokaryotic
organism  Streptomyces griseus  HUT 6037.  J Bacteriol 178: 5065-
5070.

Omar S, Sabry S. 1991. Microbial biomass and protein production from
whey. J Islamic Acad Sci 4:170-172.

Ordentlich A, Elad Y, Chet I. 1988. The role of chitinase of  Serratia
marcescens in biocontrol of Sclerotium rolfsii. Phytopathol 78: 84-88.

Orikoshi H, Baba N, Nakayama S, Kashu H, Miyamoto K, Yasuda M, Inamori
Y, Tsujibo H. 2003. Molecular analysis of the gene encoding a novel
cold-adapted chitinase (ChiB) from a marine bacterium, Alteromonas
sp. strain O-7. J Bacteriol 185: 1153–1160. 

Phetteplace H, Jarosz M, Uctuk R, Johnson D, Sporleder R. 2000. Evaluation
of single cell protein as a protein supplement for finishing cattle.
http://www.ansci.colostate.edu/documents/renut/2000/pdf/hp001.pdf
Powell KA, Faull JL. 1989. Commercial approaches to the use of biological
control agents. In Biotechnology of fungi for improving plant growth.
Ed. Whipp JM, Lumsden RD. Cambridge University Press. Cambridge.
259-275. 

Ravinder R, Rao LV, Ravindra P. 2003. Studies on  Aspergillus oryzae
mutants for the production of single cell proteins from deoiled rice
bran. Food Technol Biotechnol 41: 243-246. 

Rivera AMG, Priest FG, 2003. Pulsed field gel electrophoresis of
chromosomal DNA reveals a clonal population structure to  Bacillus
thuringiensis that relates in general to crystal protein gene content.
FEMS Microbiol Lett 223: 61-66.

Sardjono O. 1989. Penggunaan Obat Tradisional Secara Rasional. Penerbit
Majalah Cermin Dunia Kedokteran.

Sasaki K, Noparatnaraporn N, Hayashi M, Nishizawa Y, Nagai S. 1981.
Single-cell protein production by treatment of soybean wastes with
Rhodopseudomonas gelatinosa. J Ferment Technol 59: 471-477.

Sathappan M. 1997. Optimation of growth and immobilization of
Rhodopseudomonas palustris strain B1 for the utilization of sago
starch processing wastewater. MS Thesis. Institute of Advances
Studies. University of Malaya. 180 pp. 

Schnepf E, Crickmore N, Van Rie J, Lereclus D, Baum J, Feitelson J, Zeigler
DR, Dean DH. 1998.  Bacillus thuringiensis  and its pesticidal crystal
proteins. Microbiol Mol Biol Rev 62: 775-806. 

Semple KT, Cain RB. 1996. Biodegradation of phenols by the alga
Ochromonas danica. Appl Environ Microbiol 62: 1264-1273.

Shaikh SA, Desphande MV. 1993. Chitinolytic enzymes: their contribution to
basic and applied research. World J Microbiol Biotechnol. 9: 468: 475.

Spadaro JT,,Gold MH, Renganathan V.  1992. Degradation of azo dyes by
the lignin-degrading fungus  Phanerochaete  chrysosporium.  Appl
Environ Microbiol 58: 2397-2401.

Suryanto D, Suwanto A. 2000. Seleksi dan isolasi bakteri pengurai senyawa
hidrokarbon aromatik. J Mikrobiol Indones 5: 39-42.
Suryanto D, Nasution SK, Yurnaliza. 2005. Potensi isolat bakteri dari
kepiting batu untuk menghasilkan minyak kelapa secara fermentasi. J
Mikrobiol Indones 10: 14-16.

Suryanto D, Chairani, Rusika D, Lubis NA, Yurnaliza. 2007. Eksplorasi dan
bioasai berbagai isolat  Bacillus  thuringiensis lokal terhadap larva
beberapa jenis serangga. Biota 12: 61-67.

Suryanto D. 2009. Amplifikasi gen  cry1 dan analisis genom isolat Bacillus
thuringiensis lokal. Berkala Penelitian Hayati (submitted).

Suryanto D, Irawati N, Munir E. 2009a. Isolation and characterization of
chitinolytic bacteria isolated from soil, and their potential to inhibit
plant pathogenic fungi. Biotropia (submitted).

Suryanto D, Patonah S, Munir E. 2009b. Control of Fusarium wilt of chili
with chitinolytic bacteria. Hayati (submitted).

Suryanto D, Listiani PD. 2009c. Isolasi bakteri fotosintetik anoksigenik yang
tumbuh dalam limbah cair tepung  tapioka dan potensinya sebagai
protein sel tunggal (Isolation of anoxygenic photosynthetic bacteria
that grow in cassava liquid wastewater and its potential as single cell
protein). Biota (submitted).

Suryanto D, Fakhrullah, Napitupulu D, Munir E. 2009e. Assay of three
chitinolytic bacterial isolates of Taman Nasional Gunung Leuser
Tangkahan to inhibit plant pathogenic fungi. Microbiol Indones  (in
preparation).

Thomas DJI, Morgan JAW, Whipps JM, Saunders JR. 2000. Plasmid transfer
between the  Bacillus thuringiensis  subspecies  kurstaki  and
tenebrionis  in laboratory culture and soil and in Lepidopteran and
Coleopteran larvae. Appl Environ Microbiol 66: 118-124.

Tsujibo H, Kubota T, Yamamoto M, Miyamoto K, Inamori Y. 2003.
Characterization of chitinase genes fom an alkaliphilic actinomycete,
Nocardia prasina OPC-131. Appl Environ Microbiol 69: 894-900.

Wen CM, Tseng CS, Cheng CY, Li YK. 2002. Purification, characterization
and cloning of a chitinase from  Bacillus  sp. NCTU2.  Biotech Appl
Biochem 35: 213-219.

Whitman WB, Coleman DC, Wiebe WJ.  1998. Prokaryotes: The unseen
majority. Proc Natl Acad Sci 95: 6578-6583.

Wu ML, Chuang YC, Chen JP, Chen CS, Chang MC. 2001. Identification and
characterization of the three chitin-binding domains within the
multidomain chitinase Chi92 from Aeromonas hydrophila JP101. Appl
Environ Microbiol 67: 5100-5106.

DAFTAR RIWAYAT HDUP

PERSONAL

Nama Lengkap dan Gelar :  Dwi Suryanto, B.Sc. (UGM), Drs. (UGM), 
  M.Sc. (Michigan St. U), Dr. (IPB), Prof. (USU)
Tempat/Tanggal Lahir : Sungailiat, Bangka/9 April 1964
Agama : Islam
NIP : 19640409 199403 1 003
Gol./Pangkat : IVa/Pembina
Jabatan Fungsional : Guru Besar
Alamat Rumah :  Jl. Beo No. 249, Perumnas Mandala, Medan
Alamat Kantor :  Departemen Biologi, Fakultas MIPA, USU 
  Jln. Bioteknologi No. 1, Medan 20155
Telepon Kantor : (061) 8223564
HP :  08126328916
E-mail :  DwiSuryanto@usu.ac.id
  d.suryanto@lycos.com


KELUARGA

Nama Orang Tua : (Alm.) Moehammad Sahoeri (Bapak)
  (Almh.) Sujatmi (Ibu)
Nama Istri : Siti Khadijah Nasution, S.Si.
Nama Anak : Muhammad Aditya Haryawan (♂)
  Nindya Laksita Laras (♀)
  Aisyah Anindita Prameswari (♀)


PENDIDIKAN

-  SD UPTB. Pemali. Bangka. 1975.
-  SMP UPTB. Pemali. Bangka. 1979.
-  SMA Negeri 508. Sungailiat. Bangka. 1982.
-  B.Sc. Biologi. Fakultas Biologi. UGM. Yogyakarta. 1986.
-  Drs. Biologi. Fakultas Biologi. UGM. Yogyakarta. 1987.
-  M.Sc. Entomologi. Department of Entomology. Michigan State University.
East Lansing. Amerika Serikat. 1993.
-  Dr. Mikrobiologi. Program Pascasarjana IPB. Bogor. 2001.

PENGUASAAN BAHASA ASING

-  Inggris: lisan dan tulisan.


RIWAYAT JABATAN

1-3-1994  Calon Pegawai Negeri Sipil.
1-4-1995  Penata Muda (Gol. IIIa).
1-6-1995  Asisten Ahli Madya/Penata Muda (Gol. IIIa).
1-4-1996  Asisten Ahli/Penata Muda Tk. I (Gol. IIIb).
1-1-2003  Impassing Asisten Ahli (150)/Penata Muda Tk. I (Gol. IIIb).
1-5-2003 Lektor/Penata Muda Tk. I (Gol. IIIb).
1-10-2003 Lektor/Penata (Gol. IIIc).
1-7-2005 Lektor Kepala/Penata (Gol. IIIc).
1-10-2006 Lektor Kepala/Penata Tk. I (Gol. IIId)
1-11-2008 Guru Besar/Penata Tk. I (Gol. IIId)
1-12-2008 Sertifikasi Dosen
1-4-2009 Guru Besar/Pembina (Gol. IVa)


PENGALAMAN PEKERJAAN

1983-1988 Asisten tidak tetap di Fakultas Biologi. UGM. Yogyakarta.
1985 Asisten tidak tetap di Fakultas PMIPA. IKIP. Yogyakarta.
1988-1993  Staf Pengajar. Fakultas Biologi. UMA. Medan.
1992  Compulsory Teaching Assistant on General Entomology.
Department of Entomology. Michigan State University.
East Lansing. Michigan. Amerika Serikat.
1994-sekarang  Staf Pengajar. Departemen Biologi. Fakultas MIPA. USU.
Medan.
1994-1996   Short-term Technical Assistant. HEDS-USAID Project.
Medan.
1995 Anggota Tim Penyusun Proposal Laboratorium Penelitian
dan Pengembangan MIPA Terpadu. Fakultas MIPA USU.
Medan.
1995-1996  Kepala Laboratorium Taksonomi Hewan. PS Biologi.
Fakultas MIPA. USU. Medan.
2002-2006 Kepala Laboratorium Mikrobiologi. Jurusan Biologi.
Fakultas MIPA. USU. Medan.
2003 Anggota Tim Penyusun Proposal TPSDP. Jurusan Biologi.
Fakultas MIPA. USU. Medan.
2004  Ketua Tim Penyusun Proposal S1 Reguler Mandiri. Jurusan
Biologi. Fakultas MIPA. USU. Medan.
2004  Ketua Tim Penyusun Proposal SP4. Jurusan Biologi.
Fakultas MIPA. USU. Medan. 
2005 Ketua Tim Penyusun Kurikulum Berbasis Kompetensi
2006. Departemen Biologi. Fakultas MIPA. USU. Medan.
2005-2010 Ketua Departemen Biologi. Fakultas MIPA. USU. Medan.
2006 Ketua Tim Penyusun Proposal PHK-A2. Departemen
Biologi. Fakultas MIPA. USU. Medan.
2006-sekarang Penanggung Jawab dan Anggota Editor Jurnal Biologi
Sumatera. Departemen Biologi. Fakultas MIPA USU.
Medan.
2006-2010 Ketua Program Studi S2 Biologi. USU. Medan.
2007-2009 Ketua Tim GKM Departemen Biologi. Fakultas MIPA. USU.
Medan.
2007-2009 Ketua Tim GKM Program Studi S2 Biologi. USU. Medan.
2007-2009 Evaluator/Reviewer Penelitian LP USU. Medan.
2008 Anggota Tim Penyusun Proposal Program Hibah Kompetisi
Institusi. USU. Medan.
2009 Pembina Olimpiade Sains Nasional Bidang Biologi Provinsi
Sumatera Utara. Medan.
2009 Reviewer Insentif Staf untuk Pemutakhiran Bahan Ajar
dan  E-Learning Program Hibah Kompetisi Institusi. USU.
Medan.


MATA KULIAH YANG DIASUH

1994-1996  S1 : Taksonomi Avertebrata, Taksonomi Vertebrata,
Ekologi, Genetika, Entomologi, Ekologi Serangga
(Departemen Biologi).
2001-2002 S1 :   Biologi (Departemen Kehutanan).
2001-2005 D3 : Mikrobiologi (D3-Kimia Analis).
2001-2006 S1 : Biokimia (Departemen Biologi).
2001-sekarang S1 : Mikrobiologi, Evolusi, Pengantar Bioteknologi, 
   Mikrobiologi Lingkungan (Departemen Biologi).
2006-sekarang S2 : Keragaman Mikroba, Genetika Mikroba, Biologi
Mikroba  Pengendali Hayati (Biologi SPS USU).
   Bioremediasi dan Biodegradasi (Biologi dan PSL SPS
USU).
2008-sekarang S3 : Pengelolaan Limbah dan Bioremediasi (Agronomi SPS
USU)

SEMINAR/PELATIHAN/PENATARAN (SEBAGAI PEMAKALAH/
NARASUMBER)

Kongres dan Seminar Nasional Perhimpunan Bioteknologi Pertanian
Indonesia. Yogyakarta. 2000. (Pemakalah). 
Kongres Permi. Yogyakarta. 2001. (Pemakalah).
SEMIRATA 15 MIPA. Medan. 2001. (Pemakalah).
Lokakarya Pengajaran Mikrobiologi Modern Untuk Guru-Guru SMU se
Sumatera Utara. USU. Medan. 2002. (Ketua Panitia dan
Narasumber).
Kuliah Khusus. Plasmid: Suatu DNA Ekstra Kromosom. Microbiological Study
Club. Medan. 2002. (Pembicara).
Seminar Pengembangan Wawasan Bioteknologi: Peningkatan dan
Penajaman Pengertian Bioteknologi Bagi Guru dan Siswa SMU Sesuai
dengan Kurikulum Nasional. UMA. Medan. 2003. (Pembicara).
Seminar Nasional Kimia II. Departemen Kimia. Fakultas MIPA. USU. 2005.
(Pemakalah).
Seminar dan Lokakarya Revisi Kurikulum Biologi Berbasis Kompetensi.
Departemen Biologi. Fakultas MIPA. USU. 2005. (Panitia dan
Pemakalah).
Seminar Nasional XVII dan Kongres X. PBBMI Bekerjasama dengan Pusat
Penelitian Bioteknologi Universitas Riau. Pekanbaru. 2005.
(Pemakalah).
Short Course Entomologi Kesehatan. 2006. Bapelkes Provinsi Sumatera
Utara. (Fasilitator/Narasumber).
Pelatihan Penyusunan Pembuatan Proposal Penelitian DP2M-Dikti Tahun
2006-2009. LP USU. (Pembicara). 
The Fifth Regional IMT-GT Uninet Conference & International Seminar. USU.
2006. (Pemakalah).
Seminar dan Lokakarya SEMIRATA,MIPA. Unand dan UNP Padang. 2006.
(Pemakalah).
Seminar 2nd
 Annual Scientific Meeting of Pharmacy, Pharmacology, and
Medicine. Science and Research for Tomorrow. Fakultas Kedokteran
USU Medan. 2006. (Pemakalah).
Seminar Hasil-hasil Penelitian Lembaga Penelitian USU 2006. (Pemakalah). 
Seminar Sehari Meningkatkan Wawasan Bioteknologi di MAN 2 Model
Medan. 2007. (Pembicara).
Pelatihan Olimpiade Biologi. LPMP Medan. 2008. (Narasumber).
Pelatihan TOT Biologi. LPMP Medan. 2008. (Narasumber).
International Seminar:  The Roles of Biology in Sustainable Utilization of
Local Natural Resources for Environmental-Friendly Industrial
Purposes. Departemen Biologi. Fakultas MIPA USU. 2008.
(Pemakalah).

SEMINAR/PELATIHAN/PENATARAN (SEBAGAI PANITIA)

Seminar Sehari Penerapan Teknologi  dan Komunikasi Data. UMA. Medan.
1995. (Moderator).
International Training Workshop on Advances in Molecular Biology
Techniques to Assess Microbial Biodiversity. SEAMEO BIOTROP.
Bogor. 2000. (Lab Instructure).
Lokakarya Pengajaran Mikrobiologi dan Bioteknologi Modern Untuk Guru
SMU. IPB. Bogor. 2000. (Panitia dan Instruktur Praktikum).
Seminar Ilmiah Peran MIPA Dalam Pengembangan IPTEK Untuk
Pemberdayaan Potensi Daerah Sumatera Utara. Lustrum VII.
Fakultas MIPA. USU. Medan. 2000. (Panitia).
Seminar Bioinformatika: Landasan Ilmu-ilmu Pertanian Masa Depan. 2000.
IPB. Bogor. (Panitia).
Second International Training Course on Advances in Molecular Biology
Techniques to Assess Microbial Biodiversity. SEAMEO BIOTROP.
Bogor. 2001. (Lab Instructure).
Training Course on Advances in Molecular Biology Technique to Assess
Microbial Biodiversity. Kasetsart University. Bangkok. Thailand. 2001.
(Lab Instructure).
Seminar Nasional dan Pertemuan Ilmiah Tahunan Perhimpunan Mikrobiologi
Indonesia. Medan. 2002. (Ketua Panitia).
Training Course on Advances in Molecular Biology Technique to Assess
Microbial Biodiversity. SEAMEO BIOTROP. Bogor. 2003. (Lab
Instructure).
Workshop on Biocontrol and Plant Clinic Molecular Diagnostic for Plant
Pathogen. Fakultas Pertanian. USU. Medan. 2004. (Class and Lab
Intructure).
Seminar Bioteknologi Modern, Sarana Penting Untuk Pemanfaatan
Biodiversitas Secara Optimal. Fakultas MIPA. USU. 2004. (Panitia).


SEMINAR/PELATIHAN/PENATARAN (SEBAGAI PESERTA)

English Course.  The  Economic Institute. Colorado University. Boulder. CO.
Amerika Serikat. 1990.
Mid Winter Seminar. Tucson. Arizona. Amerika Serikat. 1990.
Entomological Society of America, Annual Meeting and Seminar. Baltimore.
Amerika Serikat. 1992.
Entomological Society of America, Forensic Seminar. Baltimore. Amerika
Serikat. 1992.


 
Short Course of Basic Genetics. HEDS-USAID. UNILA. Bandar Lampung.
1993.
Research Proposal Writing Workshop. HEDS-USAID. USU. Medan. 1994.
Penataran Tenaga Peneliti Bidang Ilmu Eksakta. LP USU. Medan. 1994.
Short Course on Cell Biology. HEDS-USAID. UNAND. Padang. 1994.
Short Course on Competency and Relevancy in Education. HEDS-USAID.
USU. Medan. 1994.
Microbial Ecology & Biotechnology Seminar and Course Development.
HEDS-USAID. USU. MEDAN. 1995.
Short Course of Basic Genetics II. HEDS-USAID. UNILA. Bandar Lampung.
1995.
Upgrading and Workshop in Animal Ecology. UNSRI. Palembang. 1995.
Introductory Course on Remote Sensing and Geographical Information
System for Biological Resources Management. HEDS-USAID. IKIP.
Medan. 1995.
International Seminar on Biotechnology and Bioinformatics. UNIKA
Atmajaya. Jakarta. 2001.
Seminar Relevansi Tanaman Transgenik Terhadap Ketahanan Pangan
Nasional. Seminar Nasional dan Pertemuan Mahasiswa Pertanian
Sumatera Utara. PEMA. Fakultas Pertanian. UNIKA St. Thomas
Sumatera Utara. Medan. 2002. 
Pelatihan Pembuatan Proposal Program SP4 dan Penulisan Laporan
Pelaksanaan Program di Lingkungan Universitas Sumatera Utara.
2005.
Workshop on Bioinformatics. India-ASEAN Country. Hyderabad. India. 2005.
Pelatihan Penyiapan Dokumen Akreditasi Program Studi  di Lingkungan
Universitas Sumatera Utara. 2006.
Pelatihan Penyusunan Proposal Hibah Kompetisi Departemen-Departemen
di Lingkungan Universitas Sumatera Utara. 2006.
Workshop Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya. Biro
Kepegawaian. Sekjen Depdiknas-Unimed. 2006.
Lokakarya Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (Pekerti)
Angkatan XXV. 2006.
Lokakarya Struktur dan Administrasi Tim Monitoring dan Evaluasi
Universitas Sumatera Utara. 2006.
Pelatihan Penyusunan RS, RKT, PKK, dan PPS. USU. 2006.
Lokakarya Membangun Kolaborasi Para Pihak Dalam Strategi Konservasi
Habitat Orangutan Sumatera di Kawasan Hutan Daerah Aliran Sungai
Batang Toru. Medan 2007.
Pelatihan Sertifikasi Auditor Penjaminan Mutu Sistem Manajemen Mutu
(SMM). USU. 2008.
Pelatihan TOT Pengembangan Program  Jaringan Kerja Perguruan Tinggi
Olimpiade Sains Nasional. Ditjen MPDM. Jakarta. 2009.
Academic Research Exposition. (Poster). IMT-GT. Kangar. Perlis. Malaysia.
2009.


PENELITIAN

HEDS-USAID. 1993. (Mahasiswa S2).  A survey of ants as candidates for
potential biological control of pear psylla  (Cacopsylla pyricola
(Foerster)) in Michigan. MS Thesis. Michigan State University. East
Lansing. Amerika Serikat. 
OPF USU. 1994. (Ketua). Identifikasi semut dan kesukaan terhadap umpan
di tanah berumput. 
OPF USU. 1995. (Anggota). Cacing tanah pada timbunan sampah rumah
tangga di beberapa Kecamatan Kotamadya Medan.
PPD HEDS-USAID. 1996. (Anggota). Pembuatan dan pengujian disinfektan
lolos butuh pentayodium terhadap mikroorganisme patogen
pencemar air minum. 
OPF USU. 1997. (Anggota). Isolasi kristal protein  Bacillus  thuringiensis
untuk kajian bioinsektisida. 
BPPS, PT Timah Bangka, dan RCMD FMIPA IPB Bogor. 2001. (Mahasiswa
S3). Selection and characterization of bacterial isolates for monocyclic
aromatic degradation. Disertasi. IPB. Bogor.
Hibah PEKERTI 1. DP3M Dikti. 2003-2004. (Ketua). Eksplorasi dan upaya
pemanfaatan isolat Bacillus thuringiensis lokal Sumatera Utara untuk
tujuan pengendalian hama. 
Penelitian Dasar. DP2M Dikti. 2004. (Ketua). Potensi obat cendawan
Ganoderma  indigenous Sumatera Utara melalui uji keragaman
genetik. 
Hibah Bersaing 12. DP2M Dikti. 2004-2005. (Anggota). Pemanfaatan limbah
cair pabrik pengolahan kelapa sawit untuk memperkaya biodiversitas
tanah dan menghindari pencemaran lingkungan. 
Hibah Bersaing 13. DP2M Dikti. 2005-2006. (Ketua). Eksplorasi bakteri
kitinolitik: Keragaman genetik gen penyandi kitinase pada berbagai
jenis bakteri dan pemanfaatannya. 
Proyek Penelitian SP4. 2005. (Ketua). Isolasi dan uji aktivitas antimikroba
beberapa tumbuhan yang berpotensi sebagai obat asal Cagar Alam
Tangkahan Sumatera Utara. 
Proyek Penelitian SP4. 2006. (Anggota). Isolasi bakteri dan uji biodegradasi
kompleks minyak solar. Prospek Keanekaragaman Hayati Mikroba 
(Microbial Bioprospecting) Sumatera Utara 
Hibah Bersaing 14. DP2M Dikti. 2006-2008. (Anggota). Upaya budidaya
ikan jurung (Tor sp.) sebagai peluang pengembangan komoditas baru
di daerah Sumatera Utara.
Penelitian FAO & UBK Sahiva USU. 2007. (Anggota). Poultry market chain
study in North Sumatra.
Hibah Bersaing 16. DP2M Dikti. 2008. (Anggota). Produksi biogas dari
limbah cair tahu sebagai upaya mengatasi krisis energi dan
pencemaran lingkungan.
Hibah Bersaing 16. DP2M Dikti. 2008. (Anggota). Pemanfaatan fungi dalam
proses dekomposisi serasah daun Avicennia marina sebagai sumber
pakan bagi organisme di ekosistem mangrove.
Penelitian Hibah.  Funded by Rainforest Coffee Team, and The Clean
Production and Regional Cooperation Foundation, Taiwan. 2008-
2009. (Ketua).  Isolation and characterization of thermophiles from
North Sumatra’s geothermal and their hydrolytic enzyme potential.
Hibah Penelitian Strategis Nasional 1. DIPA USU. 2009. (Ketua).
Biodiversitas mikroorganisme penghasil antibiotik dari TWA
Sibolangit, Sumatera Utara.


DAFTAR PUBLIKASI ILMIAH

Suryanto D, Suwanto A. 2000. Seleksi dan isolasi bakteri pengurai senyawa
hidrokarbon aromatik. J Mikrobiol Indones 5: 39-42.
Suryanto D, Suwanto A, Meryandini A. 2001.  Characterization of three
benzoate degrading anoxygenic photosynthetic bacteria isolated from
the environment. Biotropia 17: 9-17.
Suryanto D, Suwanto A. 2002.  Effect of pH and NaCl concentration on
benzoate utilization of anoxygenic photosynthetic bacteria. J Mikrobiol
Indones 7: 15-18.
Suryanto D, Suwanto A. 2003.  Isolation and characterization of a novel
benzoate-utilizing Serratia marcescens. Biotropia 21: 1-10.
Suryanto D. 2004. Mengenal lintasan aerobik degradasi senyawa
hidrokarbon aromatik monosiklik mikroorganisme.  Warta
Universitaria 18/19: 92-94.
Suryanto D, Nasution SK, Yurnaliza. 2005. Potensi isolat bakteri dari
kepiting batu untuk menghasilkan minyak kelapa secara fermentasi.  
J Mikrobiol Indones 10:14-16.
Suryanto D, Kelana TB, Nani N, Yurnaliza. 2005. Uji bioaktivitas ekstrak
metanol daun tumbuhan serit Randia longiflora (Familia: Rubiaceae).
Media Farmasi 13: 29-34.
Universitas Sumatera Utara
Suryanto D, Andriani S, Nurtjahja K. 2005. Keragaman genetik Ganoderma
spp. dari beberapa tempat di Sumatera Utara. Kultura 40: 70-76. 
Nurtjahja K, Suryanto D, Winda L. 2006. Identifikasi jenis dan jumlah
bakteri pada pasien mikosis kulit. J Biol Sum 1: 1-2.
Suryanto D. 2006. Uji bioaktivitas penghambatan ekstrak metanol
Ganoderma spp. terhadap pertumbuhan bakteri dan jamur.  J Sains
Kimia 10: 31-34.
Suryanto D, Kelana TB, Munir E, Nani N. 2006. Uji  brine-shrimp dan
pengaruh ekstrak metanol daun tumbuhan pradep (Psychothria
stipulacea  Wall (Familia: Rubiaceae)) terhadap mikroba. Media
Farmasi 14: 85-92.
Suryanto D, Ginting D, Yurnaliza. 2006.  Isolation of chitinolytic bacteria
from North Sumatra and Bangka and assay of their crude chitinase.
Proceedings: The Fifth Regional IMT-GT Uninet Conference &
International Seminar 2006: 6-11. 
Herlambang MS, Priyani N, Nurtjahja K, Suryanto D. 2006.  Isolation of
proteolitic thermophilic bacteria from hot spring of Semangat Gunung
Village, Simpang Empat, Karo, North Sumatra. Proceedings: The Fifth
Regional IMT-GT Uninet Conference & International Seminar 2006:
72-77.
Widhiastuti R, Suryanto D, Muklis, Wahyuningsih H. 2006.  Utilization of
palm oil mill effluent to increase soil biodiversity and to reduce
environmental pollution.  Proceedings: The Fifth Regional IMT-GT
Uninet Conference & International Seminar 2006: 450-454.
Widhiastuti R, Suryanto D, Mukhlis, Wahyuningsih H. 2006. Pengaruh
pemanfaatan limbah cair pabrik pengolahan kelapa sawit sebagai
pupuk terhadap biodiversitas tanah. Kultura 41: 1-8.
Suryanto D, Munir E. 2006. Potensi pemanfaatan isolat bakteri kitinolitik
lokal untuk pengendalian hayati jamur. Prosiding Seminar Hasil-hasil
Penelitian Tahun 2006 Dalam Rangka Dies Natalis USU ke-54. LP
USU: 15-25.
Supriharti D, Wahyuningsih H, Suryanto D. 2006. Upaya budidaya ikan
jurung (Tor sp.) sebagai peluang pengembangan komoditas baru di
Sumatera Utara. Prosiding Seminar Hasil-hasil Penelitian Tahun 2006
Dalam Rangka Dies Natalis USU ke-54. LP USU: 153-158.
Suryanto D, Chairani, Rusika D, Lubis NA, Yurnaliza. 2007. Eksplorasi dan
bioasai berbagai isolat  Bacillus  thuringiensis lokal terhadap larva
beberapa jenis serangga. Biota 12: 61-67.
Suryanto D. 2007. Is transposition really random? J Sains Kimia 11: 5-8.
Suryanto D, Irmayanti, Lubis S. 2007. Karakterisasi dan uji kepekaan
antibiotik beberapa isolat  Staphylococcus  aureus dari Sumatera
Utara. Media Kedokteran Nusantara 40: 104-107.
Suryanto D. 2007. Keragaman genetik beberapa isolat Bacillus thuringiensis
asal Sumatera Utara. J Biol Sum 2: 1-3.
Suryanto D, Kelana TB. 2009. Uji  antimikroba dan toksisitas ekstrak
metanol daun blokar (Piper sarmentosum). J Biol Sum (submitted).
Suryanto D, Kelana TB, Wahyuni S. 2009. Pengujian fraksi ekstrak metanol,
etil-asetat dan  n-heksana daun tabar-tabar (Costus  speciosus)
terhadap mikroba dan uji toksisitasnya terhadap larva udang. Biota:
(submitted).
Suryanto D, Listiani PD. 2009. Isolasi bakteri fotosintetik anoksigenik yang
tumbuh dalam limbah cair tepung  tapioka dan potensinya sebagai
protein sel tunggal. Biota (submitted).
Suryanto D. 2009. Amplifikasi gen  cry1 dan analisis genom isolat Bacillus
thuringiensis lokal. Berkala Penelitian Hayati: (submitted).
Suryanto D, Irawati N, Munir E. 2009.  Isolation and characterization of
chitinolytic bacteria isolated from soil, and their potential to inhibit
plant pathogenic fungi. Biotropia (submitted).
Suryanto D, Patonah S, Munir E. 2009. Control of Fusarium wilt of chili with
chitinolytic bacteria Hayati (submitted).
Suryanto D, Fakhrullah, Napitupulu D, Munir E. 2009.  Assay of three
chitinolytic bacterial isolates  of Taman Nasional Gunung Leuser
Tangkahan to inhibit plant pathogenic fungi. Microbiol  Indones  (in
preparation).


DAFTAR KARYA ILMIAH/PENELITIAN YANG TIDAK DIPUBLIKASIKAN

Suryanto D. 1986. Total kolesterol pada beberapa telur unggas. Penelitian
untuk Seminar Sarjana Muda. Fakultas Biologi. Universitas Gadjah
Mada. Yogyakarta.
Suryanto D. 1987. Pengaruh pemberian pupuk kandang dan insektisida
Furadan 3G terhadap populasi Collembola dan Acarina. Skripsi.
Fakultas Biologi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Suryanto D. 1993.  A survey of ants as candidates for potential biological
control of pear psylla (Cacopsylla pyricola (Foerster)) in Michigan. MS
Thesis. Michigan State University. East Lansing.
Suryanto D. 1995. Dengue fever in Asia. Karya Ilmiah. Perpustakaan USU.
Medan.
Suryanto D. 1995.  The mangrove forests of Sumatra. Karya Ilmiah.
Perpustakaan USU. Medan.
Suryanto D. 1995.  Developing an integrated pest management design of
pear psylla  (Cacopsylla pyricola  (Foerster)) in pear orchard. Karya
Ilmiah. Perpustakaan USU. Medan. 
Universitas Sumatera Utara
Suryanto D. 1995. Indeks agregasi dan transformasi semut  Prenolepis
imparis (Say), Lasius neoniger Emery, dan Myrmica emeryana Forel.
Karya Ilmiah. Perpustakaan USU. Medan
Suryanto D. 2001.  Selection and characterization of bacterial isolates for
monocyclic aromatic degradation. Disertasi. IPB. Bogor. 
Suryanto D. 2002. Biodegradasi aerobik senyawa hidrokarbon aromatik
monosiklis oleh bakteri. Karya Ilmiah. Perpustakaan USU. Medan.
Suryanto D. 2002. Melihat keanekaragaman organisme melalui beberapa
teknik genetika molekuler. Karya Ilmiah. Perpustakaan USU. Medan.


DIKTAT

De La Cruz A. 1995. Spesimen Biologi. Terjemahan D. Suryanto. HEDS
Project. Jakarta.
De La Cruz A. 1995. Kompendium Silabus. Terjemahan. D. Suryanto. HEDS
Project. Jakarta. 
De la Cruz A, Suryanto D. 1995. Penuntun Praktikum Biologi Umum.
Penyunting HM Eidman. HEDS-USAID.
Suryanto D. 1995. Biologi Evolusi. PS Biologi. Fakultas MIPA. USU. Medan.
Munir E, Suryanto D. 1996. Penuntun Praktikum Biologi Umum.
Laboratorium Biologi Dasar. Fakultas MIPA. USU. Medan.
Munir E, Suryanto D. 1996. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Umum.
Laboratorium Mikrobiologi. Fakultas MIPA. USU. Medan.
Suryanto D. 2004. Biokimia (Lemak, Asam Nukleat, dan Vitamin). PS
Biologi. Fakultas MIPA. USU. Medan.
Suryanto D. 2004. Pengantar Bioteknologi. PS Biologi. Fakultas MIPA. USU.
Medan.
Suryanto D, Munir E. 2004. Mikrobiologi. Departemen Biologi. Fakultas
MIPA. USU. Medan.
Yurnaliza, Suryanto D. 2006. Mikrobiologi Lingkungan. Departemen Biologi.
Fakultas MIPA. USU. Medan.


KARYA TULIS LAIN

Suryanto D. Insektisida Bukan Senjata Pamungkas. Harian Mimbar Umum.
20 Agustus 1988.
Suryanto D. Pendidikan Biologi Sekarang, Suatu Pemikiran. Harian Mimbar
Umum. 7 September 1988.
Suryanto D. Insektisida dan Populasi Serangga.  Warta Universitaria.
Universitas Medan Area. November 1989. Prospek Keanekaragaman Hayati Mikroba 
(Microbial Bioprospecting) Sumatera Utara 
Suryanto D. Pusat Penelitian Bioteknologi Di USU, Mungkinkan?. Suara USU.
Mei 2002.
Suryanto D. Mengenal Lebih Dekat Transgenik.  Harian Waspada. 5 Juni
2002.
Suryanto D. Penelitian Kita Dalam Angka. Suara USU. September 2006.


PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Penyuluhan Tentang Kemungkinan Pemanfaatan Lahan Pekarangan Melalui
Pengembangan Tanaman Sayur-sayuran/Palawija di Desa Ladang
Bambu. 1994. Proyek OPF. (Anggota).
Perbaikan Mutu Tempe Melalui Perbaikan Pengolahan di Kelurahan Ladang
Bambu Kecamatan Medan Tuntungan. 1994. Proyek OPF.
(Koordinator).
Upaya Pengendalian Eceng Gondok (Eichhornia  crassipess) Melalui
Pemanfaatannya Sebagai Hijauan Pakan Ternak Olahan dan Kompos.
1995. Proyek OPF. (Anggota).
Penyuluhan Tumbuhan Obat yang Digunakan Sebagai Obat Dalam
Campuran Jamu Serta Budi Dayanya di Desa Ladang Bambu
Kecamatan Medan Tuntungan. (Anggota).
Pembudidayaan Lebah Madu (Apis sp.) di Desa Padang Halaban Kecamatan
Aek Natas Kabupaten Labuhan Batu. 1996. Dana Mandiri. (Anggota).
Pemanfaatan Pekarangan Dengan Menanam Sledri Sistim Kotak Bedengan
di Desa Ladang Bambu Kecamatan Medan Tuntungan. 1996. Proyek
OPF. (Anggota).
Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Produksi Benih Tanaman Hortikultura.
1996. Program Vucer. Dikti. (Anggota). 
Pemberian Nama Tumbuh-tumbuhan di  Lingkungan Universitas Sumatera
Utara. 1998. Lustrum II Biologi Fakultas MIPA USU. (Anggota).
Peningkatan Pengetahuan Siswa-siswi SMU Harapan Medan Dalam Mata
Pelajaran Biologi dan Kimia Sebagai Ilmu Dasar Serta Pengenalan
Dini Matematika Dalam Bidang Teknik. 2002. Dana Mandiri.
(Anggota).
Peningkatan Pengetahuan  Siswa-siswi SMU Yayasan Perguruan Pangeran
Antasari Dalam Pelajaran Biologi dan Fisika Sebagai Ilmu Dasar.
2002. Dana Mandiri. (Anggota).
Penyuluhan dan Lokakarya Pengajaran Mikrobiologi Modern dan
Bioteknologi untuk Guru-guru SMU Se Sumatera Utara. 2003. RCMD
IPB-Monsanto. (Koordinator).
Universitas Sumatera Utara


 
Peningkatan Keterampilan Siswa Madrasah Aliyah Pesantren Modern Al
Kausar, Kodya Medan Melalui Daur Ulang Kertas Menjadi Kertas Seni.
2003. Dana Mandiri. (Anggota).
Pelatihan Teknis Pengujian Mikrobiologi. 2003. DMR. FMIPA USU. (Anggota).
Penghijauan Zona Penyangga Kawasan Ekosistem Leuser Dusun Perteguhan
Desa Telagah Kabupaten Langkat. 2004. DMR. FMIPA USU.
(Anggota).
Pelatihan Guru SMU Se Kodya Medan Dalam Pembuatan Preparat
Mikroskopis Awetan Sel dan Kromosom. 2007. Program IPTEK.
(Anggota).
Pembelajaran Singkat Tentang Bioteknologi dan Aplikasinya Secara
Sederhana. 2008. DMR. FMIPA USU. (Anggota).
Penanaman Mangrove untuk Rehabilitasi Pantai di Kelurahan Belawan
Sicanang Kecamatan Medan Belawan. 2009. Dana Mandiri.
(Anggota).


PEMBINAAN KEMAHASISWAAN

2002-sekarang Dosen Pembina  Microbiology Study Club. Departemen
Biologi. Fakultas MIPA USU. Medan.
2002-sekarang Dosen Penasehat Bengkel Fotografi Sains. Departemen
Biologi. Fakultas MIPA USU. Medan. 
2006 Peserta Pelatihan Pelatih (TOT) Pembimbing Penalaran
Mahasiswa. Unimed Medan. 
2006-2009 Tim Juri Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Tingkat USU.
Medan.
2006-2007 Anggota Bidang Pembinaan Kemahasiswaan. Unit Bantuan
Kemanusiaan Sahiva. USU. Medan. 
2007  Juri Lomba/Pembicara. Pekan Ilmiah Mahasiswa. BEM-
PEMA. FK USU. Medan.
2007 Peserta Pelatihan Pelatih (TOT) Penyusunan Proposal
Program Kreativitas Mahasiswa. DIKTI. Jakarta.
2007 Tim Juri Seleksi Mahasiswa Calon Penerima Beasiswa
Yayasan Kesejahteraan Pegawai Pertamina (YKPP). USU.
Medan.
2007 Advisor Tim USU Society for Debate dalam Debat Bahasa
Inggris di UNP Padang.
2007-2008 Tim Juri Lomba Karya Tulis Mahasiswa Tingkat USU.
Medan.
2008-sekarang Koordinator Bidang Minat dan Pengembangan Kreatifitas
Ilmiah. Unit Bina Ko-kurikuler Sahiva. USU. Medan.  Prospek Keanekaragaman Hayati Mikroba 
(Microbial Bioprospecting) Sumatera Utara 
2008 Tim Juri Lomba Ilmiah dalam Temu Ilmiah Nasional 2008
Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia. FK USU.
2008 Dosen Penasehat Mahasiswa dalam Pekan Ilmiah
Mahasiswa Nasional ke-21 di UNISSULA. Semarang.
2008 Dosen Pembimbing  ICT Paper Contest (Catherine. How to
minimize the digital divide in Indonesia. Juara 2 Nasional
Gemastik 2008 Bandung).
2008 Dosen Pendamping PKMP (Suwanto, Sidik U, Amelia RB,
Pulungan PW. Optimasi piranti penangkap aseton untuk
mendeteksi diabetes melitus).
2008-sekarang Dosen Pembina Inkubator Sains (Inkubs) USU.
2009 Anggota Tim Klinik Bisnis dan Mentoring.  Student
Enterpreneurship Center USU.
2009 Manajer Tim Seminar Mahasiswa USU dalam  IMT-GT
Varsity Carnival di UniMAP. Perlis. Malaysia.
2009 Reviewer/Penilai Proposal  Hibah Kreativitas dan Inovasi
Mahasiswa, dan Hibah Proposal Penelitian Tugas
Akhir/Skripsi. USU. Medan.
2009 Dosen Pendamping PKMP (Batubara UM, Saputra B,
Susanti D, Inprayoma N. Substitusi protein pakan ikan dari
protein sel tunggal bakteri fotosintetik anoksigenik
menggunakan limbah tepung tapioka). 
2009 Dosen Pendamping PKMK (Alfin Y, Febriani M, Irza
Syukraini. Kerupuk serat: Makanan ringan sehat
alternatif).  Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional ke-22 di
Universitas Brawijaya. Malang.
2009 Reviewer/Penilai Proposal  Business Plan Mahasiswa USU
2009
2009 Ketua Panitia Tebar Pesona dan Kreativitas Mahasiswa   
ke-3. Dies Natalis ke-57. USU. Medan.


PROFESI

-  Anggota Entomological Society of America. 1991-1994.
-  Anggota Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia Cabang Bogor. 1998-2000.
-  Anggota Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia Cabang Medan. 2001-
sekarang.
-  Ketua Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia Cabang Medan. 2004-2008.
-  Wakil Ketua I Perhimpunan Anggrek Indonesia Cabang Medan. 2007-
sekarang.


PENGHARGAAN/BEASISWA

-  Beasiswa Yayasan Pendidikan Bangka PT Timah untuk pendidikan S1 di
UGM. Yogyakarta. 1983-1987.
-  Beasiswa USAID untuk pendidikan S2 di Michigan State University.
Amerika Serikat. 1990-1993.
-  Beasiswa TMPD/BPPS untuk pendidikan S3 di IPB. Bogor. 1996-2000.
-  Dana Penelitian S3. PT Timah Bangka dan RCMD Fakultas MIPA. IPB.
Bogor. 2000-2001.
-  Dosen Berprestasi I. Fakultas MIPA. Universitas Sumatera Utara. 2007.
-  Dosen Berprestasi I. Universitas Sumatera Utara. 2007. 
-  Best Student Advisor 2008. Universitas Sumatera Utara. 2009.


LAIN-LAIN

-  Reviewer/Mitra Bestari Jurnal Mikrobiologi Indonesia. Naskah No. 278.
(Volume 11. 2007).
-  Reviewer/Mitra Bestari Microbiology Indonesia. (Jurnal Internasional eks.
Jurnal Mikrobiologi Indonesia). Article #354.

0 komentar:

Poskan Komentar